Senin, 21 September 2015

LAPORAN PRAKTIKUM PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU

ACARA 1

AGROEKOSISTEM DAN ANALISIS AGROEKOSISTEM

 

I.  PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui bahwa ekosistem merupakan hubungan yang terus menerus antara komunitas makhluk hidup dan lingkungan fisiknya dapat menimbulkan suatu kesatuan organisasi kehidupan. Dalam hal ini, makhluk hidup dan lingkungan fisiknya selalu saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.setiap makhluk hidup yang hidup di suatu lingkungan akan berinteraksi dengan lingkungannya tersebut. Interaksi terjadi baik dengan makhluk hidup lain, maupun dengan benda yang ada di sekitarnya. Jenis interaksi nya dapat dalam hal mendapatkan makanan, suhu yang tepat untuk hidup.
Adapun hal-hal yang penting dalam ekosistem yakni perpindahan energy dan materi dai makhluk hidup yang satu ke makhluk yang lain dan ke dalam lingkungannya dan faktor-faktor yang menyebabkan nya, perubahan populasi suatu spesies pada waktu yang berbeda dan faktor yang menyebabkan nya, terjadinya hubungan antar spesies makhluk hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Ekosistem juga dapat berperan langsung terhadap system pertanian, dalam system nya sebagian besar terlibat komponen-komponen alam, baik itu komponen biotic yaitu manusia, hewan dan tumbuhan, maupun komponen abiotik seperti air, cahaya, dan udara.
Ekosistem pertanian merupakan faktor penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan (karbohidrat, protein, buah, sayuran, vitamin), sumber obat-obatan atau penghasil tumbuhan bernilai ekonomis penting lainnya (seperti bahan serat, pewarna, minyak dan lainnya). Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman dunia untuk beberapa rumpun tanaman, seperti tanaman buah dan obat-oabatan.
Keanekaragaman tumbuhan, keberadaan invertebrata dan serangga serta mikroba merupakan satu kesatuan dalam ekosistem pertanian yang akan menentukan tingkat produktivitas pertanian. Jasa-jasa ekologis yang diemban oleh keanekaragaman hayati pertanian memiliki arti sangat penting bagi pertanian berkelanjutan. Yang termasuk di antara jasa-jasa tersebut adalah antara lain jasa penyerbukan, jasa penguraian dan jasa pengendali biologis untuk menekan hama dan penyakit.
Sebagai sumber pangan, pertanian menjadi kunci utama penopang pemenuhan pangan penduduk Indonesia yang jumlahnya sekitar 251 juta di tahun 2013. Diperkirakan, jumlah tersebut akan terus meningkat sampai dengan 298,5 juta jiwa di tahun 2025. Salah satu implikasinya adalah kebutuhan pangan penduduk Indonesia akan terus meningkat seiring dengan laju jumlah penduduk.
Di sisi lain, kondisi ekosistem pertanian semakin rentan dengan beragam ancaman seperti peningkatan jumlah penduduk, alih fungsi lahan dan perubahan iklim. Pola pergantian musim kering dan hujan yang berubah secara ekstrem mengancam proses produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Keterancaman kerusakan pada lahan pertanian terutama juga disebabkan oleh model pengelolaan lahan pertanian yang tidak berkelanjutan. Untuk mendorong produksi pertanian, input intensif mulai dari benih, pupuk, pestisida, herbisida didayagunakan sehingga menyebabkan ketergantungan, pencemaran, kerusakan dan ketidakseimbangan ekosistem pertanian. Di samping itu lahan pertanian juga merambah pada daerah kawasan yang menjadi daerah tangkapan air.

B.       Tujuan
1.         Untuk mengetahui jenis dan fungsi agroekosistem
2.         Untuk mengenal komponen ekosistem pertanian
3.         Untuk menentukan keputusan pengelolaan agroekosistem
4.         Untuk memberi kesempatan praktikan menjadi ahli di lahannya sendiri

II.  TINJAUAN PUSTAKA

Ekosistem pertanian merupakan faktor penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan (karbohidrat, protein, buah, sayuran, vitamin), sumber obat-obatan atau penghasil tumbuhan bernilai ekonomis penting lainnya (seperti bahan serat, pewarna, minyak dan lainnya). Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman dunia untuk beberapa rumpun tanaman, seperti tanaman buah dan obat-oabatan (Beukering, 1981)
Umumnya telah diketahui bahwa semakin tinggi diversitas atau keragaman, maka stabilitas juga meningkat. Pengendalian hama dengan pestisida seharusnya dipilih sebagai rganicive terakhir. Sedangkan waktu penggunaannyapun harus dalam waktu yang tepat, serta kondisi populasi hama juga harus dalam besaran tertentu. Hal pertama yang sebaiknya dilakukan anatara lain (dalam pemberantasan hama): dengan tanaman resisten (tahan hama), penggunaan predator dan parasit, serta dengan cara ekologis dan budidaya, seperti pergiliran tanaman, penggunaan perangkap cahaya dan lain – lain (Anonim, 2009).
1) Sub Sistem Sawah
Sawah adalah pertanian yang dilaksanakan di tanah yang basah atau dengan pengairan. Bersawah merupakan cara bertani yang lebih baik daripada cara yang lain, bahkan merupakan cara yang sempurna karena tanah dipersiapkan lebih dahulu, yaitu dengan dibajak, diairi secara teratur, dan dipupuk (Rustiadi, 2007).
Sawah bukaan baru dapat berasal dari lahan kering yang digenangi atau lahan basah yang dijadikan sawah. Hara N, P, K, Ca, dan Mg merupakan pembatas pertumbuhan dan hasil padi pada lahan sawah bukaan baru. Hara N, P dan K merupakan pembatas pertumbuhan dan hasil padi pada ultisol (Widowati et al., 1997).
Lahan untuk sawah bukaan baru umumnya mempunyai status kesuburan tanah yang rendah dan sangat rendah. Tanah-tanah di daerah bahan induknya volkan tetapi umumnya volkan tua dengan perkembangan lanjut, oleh sebab itu miskin hara, dengan kejenuhan basa rendah bahkan sangat rendah. Kandungan bahan organik, hara N, P, K dan KTK umumnya rendah (Suharta dan Sukardi, 1994).
Tanah yang baik untuk areal persawahan ialah tanah yang memberikan kondisi tumbuh tanaman padi. Kondisi yang baik untuk perumbuhan tanaman padi sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu posisi topografi yang berkaitan dengan kondisi hidrologi, porositas tanah yang rendah dan tingkat kemasaman tanah yang netral, sumber air alam, serta kanopinas modifikasi sistem alam oleh kegiatan manusia (Hanafiah, 2005).
2) Sub Sistem Pekarangan
Pekarangan adalah areal tanah yang biasanya berdekatan dengan sebuah bangunan. Tanah ini dapat diplester, dipakai untuk berkebun, ditanami bunga atau terkadang memiliki kolam. Pekarangan bisa berada di depan, di belakang, disamping sebuah bangunan, tergantung besar sisa tanah yang tersedia setelah dipakai untuk bangunan utamanya (Anonim, 2009).
Lahan pekarangan beserta isinya merupakan satu kesatuan kehidupan yang saling menguntungkan. Sebagian dari tanaman dimanfaatkan untuk pakan ternak, dan sebagian lagi untuk manusia, sedangkan kotoran ternak digunakan sebagai pupuk kandang untuk menyuburkan tanah pekarnagn. Dengan demikian, hubungan antara tanah, tanaman, hewan piaraan, ikan dan manusia sebagai unit-unit di pekaranagn merupakan satu kesatuan terpadu (Pratiwi, 2004)
Pekarangan adalah sebidang tanah yang terletak di sekitar rumah dan umumnya berpagar keliling. Di atas lahan pekarangan tumbuh berbagai ragam tanaman. Bentuk dan pola tanaman pekarangan tidak dapat disamakan, bergantung pada luas tanah, tinggi tempat, iklim, jarak dari kota, jenis tanaman. Pada lahan pekarangan tersebut biasanya dipelihara ikan dalam kolom , dan hewan piaraaan seperti ayam, itik, kambing, domba, kelinci, sapi dan kerbau. Keragaman tumbuhan dan bintang piaraan inilah yang menciptakan pelestarian lingkungan hidup pada pekarangan (Lunda, 1994).
Sistem agroforestri kompleks, merupakan suatu sistem pertanian menetap yang berisi banyak jenis tanaman (berbasis pohon) yang ditanam dan dirawat dengan pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini tercakup beraneka jenis komponen seperti pepohonan, perdu, tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah banyak. Kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder. Sistem agroforestri kompleks dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Pekarangan berbasis pepohonan
b. Agroforesty kompleks (Van Noordwijk et al, 1995).
Praktek agrikultur dengan intensitas rendah seperti perladangan berpindah, pekarangan tradisional, talun, rotasi lahan, menyisakan banyak proses ekosistem alami dan komposisi tumbuhan, hewan dan mikroorganisme. Sistem dengan intensitas tinggi, termasuk perkebunan modern yang seragam dan peternakan besar, mungkin merubah ekosistem secara keseluruhan sehingga sedikit sekali biota dan keistimewaan bentang alam sebelumnya yang tersisa (Karyono, 2000).
3) Sub Sistem Talun
Penanaman berbagai macam pohon dengan atau tanpa tanaman setahun (semusim) pada lahan yang sama sudah sejak lama dilakukan petani di Indonesia. Contoh ini dapat dilihat dengan mudah pada lahan pekarangan di sekitar tempat tinggal petani. Praktek ini semakin meluas belakangan ini khususnya di daerah pinggiran hutan dikarenakan ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Konversi hutan alam menjadi lahan pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversi menjadi lahan usaha lain (Foresta, 1999).
Hampir sama dengan subsistem tegal. Perbedaan antara tegal dan talun hanya pada luasnya saja. Pekarangan itu sendiri adalah bentuk pertanian dengan memanfaatkan pekarangan halaman sekitar rumah. Biasanya lahan pertanian pekarangan diberi batas/pagar. Jenis tanaman yang diusahakan pada lahan ini antara lain jagung, kedelai, kacang tanah, sayur-sayuran, kelapa dan buah-buahan. Cara bertanam saja hanya memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah (biasanya dimiliki oleh penduduk desa). Namun memiliki tanaman yang jenis keanekaragaman tinggi (Anonim, 2009).
Talun merupakan salah satu komponen yang umum ditemukan pada agroekosistem di Jawa Barat. Talun adalah suatu tata guna lahan, dimana vegetasi yang menutupinya didominasi oleh berbagai jenis tumbuhan/tanaman berumur panjang (perennial) Talun telah lama dikenal oleh masyarakat pedesaan dan mempunyai beragam fungsi ekologi, sosial, dan ekonomi. (Soemarwoto, 1984).
Subsistem sawah biasanya berupa lahan sawah dengan tanaman utama berupa padi sawah dan tanaman pendamping berupa sayuran dan tanaman holtikultura lain. Sedangkan pada ekosistem talun (tegal pekarangan) biasanya berupa lahan pekarangan yang berdekatan dengan tempat tinggal petani dan jenis tanamannya antara lain pohon karet, aren, langsat, kelapa, kopi, kakao, melinjo, singkong, bayam, kacang panjang, dll (Karyono, 2000).
4) Sub Sistem Tegal
Tegalan adalah lahan kering yang ditanami dengan tanaman musiman atau tahunan, seperti padi ladang, palawija, dan holtikultura. Tegalan letaknya terpisah dengan halaman sekitar rumah. Tegalan sangat tergantung pada turunnya air hujan. Tegalan biasanya diusahakan pada  daerah yang belum  mengenal sistem irigasi atau daerah yang tidak memungkinkan dibangun saluran irigasi. Permukaan tanah tegalan tidak selalu datar. Pada musim kemarau keadaan tanahnya terlalu kering sehingga tidak ditanami. Tanaman utama di lahan tegalan adalah jagung, ketela pohon, kedelai, kacang tanah, dan jenis kacang-kacangan untuk sayur. Tanaman padi yang ditanam pada tegalan hanya panen sekali dalam satu tahun dan disebut padi gogo. Selain itu tanah tegalan dapat ditanami kelapa, buah-buahan, bambu, dan pohon untuk kayu bakar. Cara bertani di lahan tegalan menggunakan sistem tumpangsari, yaitu dalam sebidang lahan pertanian ditanami bermacam-macam tanaman (Anonim, 2009).
Pengairan lahan kering perlu memperhatikan sifat – sifat tanah. Lahan yang bersifat halus, sampai sangat halus dan struktur tanah remah mempumyai efisiensi pemakaian air lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Faktor – rgani yang mempengaruhi pengairan antara lain adalah iklim, ketersediaan sumber air, serta kebutuhan air tanaman (Kurnia, 2004).
Tegal pekarangan merupakan lahan yang letaknya disekitar pemukiman. Di subsistem tegal ini sistem pengairan mengandalkan curah hujan namun sudah ada campur tangan dari manusia. Tanaman yang biasanya ditanam berupa padi gogo, tanaman palawija dan tanaman pangan. (Adi,2001).
5) Sub Sistem Perkebunan
Perkebunan merupakan usaha penanaman tumbuhan secara teratur sesuai dengan ilmu pertanian dan mengutamakan tanaman perdagangan. Perkebunan penting bagi bahan ekspor dan bahan industri. Jenis-jenis tanaman perkebunan khususnya di Indonesia antara lain karet, kelapa sawit, kopi, teh, tembakau, tebu, kelapa, cokelat, kina, kapas, cengkih (Soerjani, 2007).
Pada sistem pengairan, pertanian lahan kering, kondisi topogragfi memegang peranan cukup penting dalam penyediaan air, serta menentukan cara dan fasilitas pengairan. Sumber – sumber air biasanya berada pada bagian yang paling rendah, sehingga air perlu dinaikkan terlebih dahulu agar pendistribusiannya merata dengan baik. Oleh karena itu, pengairan pada lahan kering dapat berhasil dan efektif pada wilayah yang datar datar – berombak (Kurnia, 2004)
Subsistem perkebunan berupa lahan luas yang hanya terdapat satu komoditas pertanian yang diusahakan dan permanen. System perkebunan perlu diutamakan tata rumah tangga yang sedikit atau sama sekali tertutup dimana di dalamnya terdapat suatu satuan unit tanah yang luas. Tanaman yang diusahakan biasanya kelapa sawit, karet, teh, kopi,dll (Faris, 2007).
 


III.  METODE PRAKTIKUM

A.           Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang kami gunakan dalam praktikum ini yaitu kantong plastik, alat tulis, kertas plano/kertas karton, kamera, alat tulis dan pertanaman ubi kayu/singkong

B.            Prosedur Kerja
1.        Persiapan bahan dan alat yang dibutuhkan
2.        Komponen agroekosistem di sekitar pertanaman singkong diamati, kemudian dicatat
3.        Gambar dimbil seperlunya
4.        Keadaan agroekosistem yang sudah diamati dan dicatat, digambarkan ke dalam sebuah kertas karton
5.        Hasil pengamatan dipresentasikan saat praktikum di laboratorium.
 


IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
A.      Hasil Praktikum
Adapun gambar hasil pengamatan agroekosistem tanaman singkong adalah sebagai berikut:

 


A.      Pembahasan
Analisis agroekosistem (AAES) merupakan salah satu kegiatan terpenting dalam pengelolaan hama terpadu (PHT). Kegiatan AAES dapat dianggap sebagai teknik pengamatan terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan tentang pengelolaan lahan/kebunnya. Keputusan pengelolaan tersebut misalnya kegiatan sanitasi, pemangkasan, pemupukan, teknik pengendalian (mekanis-fisis, budidaya, penyemprotan pestisida dan lain-lain). Kegiatan AAES dapat mengantarkan petani menjadi ahli si lahan kebunnya sendiri karena setiap minggu harus melakukan observasi langsung secara teratur dan disiplin. Kegiatan AAES mengharuskan emlakukan pengamatan sejumlah faktor sebelum membuat keputusan perlindungan tanaman. Faktor tersebut antara lain:
a)         Hama
b)        Penyakit
c)         Musuh alami
d)        Serangga netral
e)         Cuaca
f)         Air
g)        Kondisi lahan
h)        Gulma
Kami melakukan observasi terhadap agroekosistem di sekitar pertanaman singkong pada hari Rabu, tanggal 17 September 2014, pukul 09.00 WIB. Lokasi pertanaman singkong tersebut berada di kelurahan Karangwangkal, Purwokerto Utara.
Kebun singkong di lokasi berbatasan langsung dengan kandang kambing di sebelah utara, kebun pisang di sebelah selatan, saluran irigasi sawah di sebelah timur dan kebun pepaya di sebelah baratnya. Tanaman selain singkong yang terdapat di lokasi antaralain yaitu pepaya, rambutan, pisang, nangka, cabai, kunyit dan beberapa tanaman tembelekan/tagetes.
Hewan yang kami dapati di lahan tersebut diantaranya yaitu capung, laba-laba, kupu-kupu, semut, belalang, kutu putih, tikus dan kumbang uret. Capung dan laba-laba disini merupakan hewan predator yang memangsa serangga lainnya, sedangkan hewan semut dan kupu-kupu merupakan serangga netral. Hewan yang merupakan hama bagi tanaman singkong yaitu kutu putih, larva uret dan tikus.
Tumbuhan gulma juga banyak ditemui di sekitar lahan, diantaranya rumput teki, rumput grintingan, rumput belulang, tuton dan babandotan. Namun intesitas penyerangannya masih ringan sampai sedang.
 Syarat tumbuh tanaman singkong, menurut Ir. H. Rahmat Rukmana MBA, M.Sc. (2007), adalah sebagai berikut:
a.         Iklim
1.    Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong antara 1.000 - 2.500 mm / tahun.
2.    Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela pohon/singkong sekitar 10 derajat C. Bila suhunya dibawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
3.    Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon/singkong antara 60 - 65%.
4.    Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon / singkong sekitar 10 jam / hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

b.        Media Tanam
1.        Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon / singkong adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah.
2.        Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
3.        Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5 - 8,0 dengan pH ideal 5,8. pada umumnya tanah di Indonesia ber pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0 - 5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.
Berdasarkan syarat tumbuh tersebut, maka tanaman singkong ini cocok tumbuh di purwokerto yang memiliki suhu rata-rata 26,8oC, curah hujan tahunan 2.750 mm, dengan ketinggian 0-300 mdpl.
  


V.  PENUTUP
A.      Simpulan
Simpulan yang dapat diambil dari pembahasan di atas yaitu bahwa lahan yang kami amati termasuk ke dalam jenis agroekosistem sub sistem tegal. Selain tanaman utama yang berupa singkong, lahan di sekitarnya juga ditanami tanaman tahunan seperti nangka, pepaya dan rambutan. Namun karena tanaman tahunan tersebut lebih besar dari tanaman singkong itu sendiri, maka tajuknya menaungi pertanaman singkong, sehingga memicu timbulnya penyakit akibat kelembaban yang terlalu tinggi karena sinar matahari terhalang.
B.       Saran
Sebaiknya praktikum analisis agroekosistem ini dilakukan dengan serius, semua anggota kelompok harus ikut bekerja, supaya setiap individu dapat memahami komponen-komponen agroekosistem yang diobservasi.


DAFTAR PUSTAKA

Adi. 2001. Pekarangan. www.pustaka-deptan.go.id. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2014
Anonim,2009. Subsistem. www.pustaka-deptan.go.id. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2014
Faris, Bachria. 2007. Subsistem dan Pengaruh. IKIP Semarang : Semarang Press
Beukering. 1981. Keragaman dan Analisis Pengkajian Sistem Usaha Tani Berbasis Padi di Kabupaten Lamongan. Jurnal Teknologi dan Informasi. 3(1): 43-47
Hanafiah. 2005. Tanah Sawah. http://repository.usu.ac.id. Diakses pada tanggal 8 Oktober
Karyono, 2000. Menejemen Agroekosistem. http://www.foxitsoftware.com. Diakses pada tanggal 9 Oktober 2014
Kurnia, Undang. 2004. Prospek Pengairan Pertanian  Tanaman Semusim Lahan Kering. Balai Penelitian  Tanah.  Bogor.  Jurnal  Litbang Pertanian
Lunda.1994.Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pekarangan Untuk Warung Hidup Di Desa Girigondo Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo. Semarang:Universitas Diponegoro
Mangan, J. 2002. Pedoman SL-PHT Untuk Pemandu. Proyek PHT-PR/IPM-SECP. Jakarta . 21 hal
Michon, G. and H. de Foresta. 1999. Agro-forests: incorporating a forest vision in agroforestry. CRC Press, Lewis Publishers: 381-406.
Rukmana, Rahmat. 2007. Ubi Kayu : Budidaya dan Pascapanen. Yogyakarta, Kanisius
Soerjani. 2007. Lingkungan Hidup. Jakarta:Universitas Indonesia Press
Suharta, N, Alkasuma, dan H. Suhendra. 1994. Karakteristik tanah dan penyebarannya di daerah irigasi Air Kasie II, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Bogor.
Supriyono. 2002. Agroekosistem Sawah dan Tegal. Jurnal Pengantar Ilmu Pertanian. 5(3) : 48-51.
Supriyono. 2002. Pengantar Ilmu Pertanian. Surakarta:UNS Press
Widowati. 2000. Pengaruh pengolahan tanah, pengairan terputus, dan pemupukan terhadap produktivitas lahan sawah bukaan baru pada Inceptisols dan Ultisols Muarabeliti dan Tatakarya.  Jurnal Tanah dan Iklim 18: 29-38.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar