ACARA 1
AGROEKOSISTEM DAN ANALISIS AGROEKOSISTEM
I. PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Seperti yang kita
ketahui bahwa ekosistem merupakan hubungan yang terus menerus antara komunitas
makhluk hidup dan lingkungan fisiknya dapat menimbulkan suatu kesatuan
organisasi kehidupan. Dalam hal ini, makhluk hidup dan lingkungan fisiknya
selalu saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.setiap
makhluk hidup yang hidup di suatu lingkungan akan berinteraksi dengan
lingkungannya tersebut. Interaksi terjadi baik dengan makhluk hidup lain,
maupun dengan benda yang ada di sekitarnya. Jenis interaksi nya dapat dalam hal
mendapatkan makanan, suhu yang tepat untuk hidup.
Adapun hal-hal yang
penting dalam ekosistem yakni perpindahan energy dan materi dai makhluk hidup
yang satu ke makhluk yang lain dan ke dalam lingkungannya dan faktor-faktor
yang menyebabkan nya, perubahan populasi suatu spesies pada waktu yang berbeda
dan faktor yang menyebabkan nya, terjadinya hubungan antar spesies makhluk
hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Ekosistem juga dapat
berperan langsung terhadap system pertanian, dalam system nya sebagian besar
terlibat komponen-komponen alam, baik itu komponen biotic yaitu manusia, hewan
dan tumbuhan, maupun komponen abiotik seperti air, cahaya, dan udara.
Ekosistem pertanian
merupakan faktor penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan
(karbohidrat, protein, buah, sayuran, vitamin), sumber obat-obatan atau
penghasil tumbuhan bernilai ekonomis penting lainnya (seperti bahan serat,
pewarna, minyak dan lainnya). Indonesia merupakan salah satu pusat
keanekaragaman dunia untuk beberapa rumpun tanaman, seperti tanaman buah dan
obat-oabatan.
Keanekaragaman
tumbuhan, keberadaan invertebrata dan serangga serta mikroba merupakan satu
kesatuan dalam ekosistem pertanian yang akan menentukan tingkat produktivitas
pertanian. Jasa-jasa ekologis yang diemban oleh keanekaragaman hayati pertanian
memiliki arti sangat penting bagi pertanian berkelanjutan. Yang termasuk di
antara jasa-jasa tersebut adalah antara lain jasa penyerbukan, jasa penguraian
dan jasa pengendali biologis untuk menekan hama dan penyakit.
Sebagai sumber pangan,
pertanian menjadi kunci utama penopang pemenuhan pangan penduduk Indonesia yang
jumlahnya sekitar 251 juta di tahun 2013. Diperkirakan, jumlah tersebut akan terus
meningkat sampai dengan 298,5 juta jiwa di tahun 2025. Salah satu implikasinya
adalah kebutuhan pangan penduduk Indonesia akan terus meningkat seiring dengan
laju jumlah penduduk.
Di sisi lain, kondisi
ekosistem pertanian semakin rentan dengan beragam ancaman seperti peningkatan
jumlah penduduk, alih fungsi lahan dan perubahan iklim. Pola pergantian musim
kering dan hujan yang berubah secara ekstrem mengancam proses produksi
pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Keterancaman kerusakan
pada lahan pertanian terutama juga disebabkan oleh model pengelolaan lahan
pertanian yang tidak berkelanjutan. Untuk mendorong produksi pertanian, input
intensif mulai dari benih, pupuk, pestisida, herbisida didayagunakan sehingga
menyebabkan ketergantungan, pencemaran, kerusakan dan ketidakseimbangan
ekosistem pertanian. Di samping itu lahan pertanian juga merambah pada daerah
kawasan yang menjadi daerah tangkapan air.
B.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui jenis dan fungsi
agroekosistem
2.
Untuk mengenal komponen ekosistem
pertanian
3.
Untuk menentukan keputusan pengelolaan
agroekosistem
4.
Untuk memberi kesempatan praktikan
menjadi ahli di lahannya sendiri
II. TINJAUAN PUSTAKA
Ekosistem pertanian
merupakan faktor penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan
(karbohidrat, protein, buah, sayuran, vitamin), sumber obat-obatan atau
penghasil tumbuhan bernilai ekonomis penting lainnya (seperti bahan serat,
pewarna, minyak dan lainnya). Indonesia merupakan salah satu pusat
keanekaragaman dunia untuk beberapa rumpun tanaman, seperti tanaman buah dan
obat-oabatan (Beukering, 1981)
Umumnya telah diketahui
bahwa semakin tinggi diversitas atau keragaman, maka stabilitas juga meningkat.
Pengendalian hama dengan pestisida seharusnya dipilih sebagai rganicive
terakhir. Sedangkan waktu penggunaannyapun harus dalam waktu yang tepat, serta
kondisi populasi hama juga harus dalam besaran tertentu. Hal pertama yang
sebaiknya dilakukan anatara lain (dalam pemberantasan hama): dengan tanaman
resisten (tahan hama), penggunaan predator dan parasit, serta dengan cara
ekologis dan budidaya, seperti pergiliran tanaman, penggunaan perangkap cahaya
dan lain – lain (Anonim, 2009).
1) Sub Sistem Sawah
Sawah adalah pertanian
yang dilaksanakan di tanah yang basah atau dengan pengairan. Bersawah merupakan
cara bertani yang lebih baik daripada cara yang lain, bahkan merupakan cara
yang sempurna karena tanah dipersiapkan lebih dahulu, yaitu dengan dibajak,
diairi secara teratur, dan dipupuk (Rustiadi, 2007).
Sawah bukaan baru dapat
berasal dari lahan kering yang digenangi atau lahan basah yang dijadikan sawah.
Hara N, P, K, Ca, dan Mg merupakan pembatas pertumbuhan dan hasil padi pada
lahan sawah bukaan baru. Hara N, P dan K merupakan pembatas pertumbuhan dan
hasil padi pada ultisol (Widowati et al., 1997).
Lahan untuk sawah
bukaan baru umumnya mempunyai status kesuburan tanah yang rendah dan sangat
rendah. Tanah-tanah di daerah bahan induknya volkan tetapi umumnya volkan tua
dengan perkembangan lanjut, oleh sebab itu miskin hara, dengan kejenuhan basa
rendah bahkan sangat rendah. Kandungan bahan organik, hara N, P, K dan KTK
umumnya rendah (Suharta dan Sukardi, 1994).
Tanah yang baik untuk
areal persawahan ialah tanah yang memberikan kondisi tumbuh tanaman padi.
Kondisi yang baik untuk perumbuhan tanaman padi sangat ditentukan oleh beberapa
faktor, yaitu posisi topografi yang berkaitan dengan kondisi hidrologi,
porositas tanah yang rendah dan tingkat kemasaman tanah yang netral, sumber air
alam, serta kanopinas modifikasi sistem alam oleh kegiatan manusia (Hanafiah,
2005).
2)
Sub Sistem Pekarangan
Pekarangan adalah areal
tanah yang biasanya berdekatan dengan sebuah bangunan. Tanah ini dapat
diplester, dipakai untuk berkebun, ditanami bunga atau terkadang memiliki
kolam. Pekarangan bisa berada di depan, di belakang, disamping sebuah bangunan,
tergantung besar sisa tanah yang tersedia setelah dipakai untuk bangunan
utamanya (Anonim, 2009).
Lahan pekarangan
beserta isinya merupakan satu kesatuan kehidupan yang saling menguntungkan.
Sebagian dari tanaman dimanfaatkan untuk pakan ternak, dan sebagian lagi untuk
manusia, sedangkan kotoran ternak digunakan sebagai pupuk kandang untuk
menyuburkan tanah pekarnagn. Dengan demikian, hubungan antara tanah, tanaman,
hewan piaraan, ikan dan manusia sebagai unit-unit di pekaranagn merupakan satu
kesatuan terpadu (Pratiwi, 2004)
Pekarangan adalah
sebidang tanah yang terletak di sekitar rumah dan umumnya berpagar keliling. Di
atas lahan pekarangan tumbuh berbagai ragam tanaman. Bentuk dan pola tanaman
pekarangan tidak dapat disamakan, bergantung pada luas tanah, tinggi tempat,
iklim, jarak dari kota, jenis tanaman. Pada lahan pekarangan tersebut biasanya
dipelihara ikan dalam kolom , dan hewan piaraaan seperti ayam, itik, kambing,
domba, kelinci, sapi dan kerbau. Keragaman tumbuhan dan bintang piaraan inilah
yang menciptakan pelestarian lingkungan hidup pada pekarangan (Lunda, 1994).
Sistem agroforestri
kompleks, merupakan suatu sistem pertanian menetap yang berisi banyak jenis
tanaman (berbasis pohon) yang ditanam dan dirawat dengan pola tanam dan
ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini tercakup beraneka jenis
komponen seperti pepohonan, perdu, tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah
banyak. Kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya mirip dengan ekosistem hutan
alam baik hutan primer maupun hutan sekunder. Sistem agroforestri kompleks
dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Pekarangan berbasis pepohonan
b. Agroforesty kompleks (Van Noordwijk et al, 1995).
Praktek agrikultur
dengan intensitas rendah seperti perladangan berpindah, pekarangan tradisional,
talun, rotasi lahan, menyisakan banyak proses ekosistem alami dan komposisi
tumbuhan, hewan dan mikroorganisme. Sistem dengan intensitas tinggi, termasuk
perkebunan modern yang seragam dan peternakan besar, mungkin merubah ekosistem
secara keseluruhan sehingga sedikit sekali biota dan keistimewaan bentang alam
sebelumnya yang tersisa (Karyono, 2000).
3)
Sub Sistem Talun
Penanaman berbagai
macam pohon dengan atau tanpa tanaman setahun (semusim) pada lahan yang sama
sudah sejak lama dilakukan petani di Indonesia. Contoh ini dapat dilihat dengan
mudah pada lahan pekarangan di sekitar tempat tinggal petani. Praktek ini
semakin meluas belakangan ini khususnya di daerah pinggiran hutan dikarenakan
ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Konversi hutan alam menjadi lahan
pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan
tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan
perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu
sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversi menjadi lahan
usaha lain (Foresta, 1999).
Hampir sama dengan
subsistem tegal. Perbedaan antara tegal dan talun hanya pada luasnya saja.
Pekarangan itu sendiri adalah bentuk pertanian dengan memanfaatkan pekarangan
halaman sekitar rumah. Biasanya lahan pertanian pekarangan diberi batas/pagar.
Jenis tanaman yang diusahakan pada lahan ini antara lain jagung, kedelai,
kacang tanah, sayur-sayuran, kelapa dan buah-buahan. Cara bertanam saja hanya
memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah (biasanya dimiliki oleh penduduk
desa). Namun memiliki tanaman yang jenis keanekaragaman tinggi (Anonim, 2009).
Talun merupakan salah
satu komponen yang umum ditemukan pada agroekosistem di Jawa Barat. Talun
adalah suatu tata guna lahan, dimana vegetasi yang menutupinya didominasi oleh
berbagai jenis tumbuhan/tanaman berumur panjang (perennial) Talun telah lama
dikenal oleh masyarakat pedesaan dan mempunyai beragam fungsi ekologi, sosial,
dan ekonomi. (Soemarwoto, 1984).
Subsistem sawah
biasanya berupa lahan sawah dengan tanaman utama berupa padi sawah dan tanaman
pendamping berupa sayuran dan tanaman holtikultura lain. Sedangkan pada
ekosistem talun (tegal pekarangan) biasanya berupa lahan pekarangan yang
berdekatan dengan tempat tinggal petani dan jenis tanamannya antara lain pohon
karet, aren, langsat, kelapa, kopi, kakao, melinjo, singkong, bayam, kacang
panjang, dll (Karyono, 2000).
4)
Sub Sistem Tegal
Tegalan adalah lahan
kering yang ditanami dengan tanaman musiman atau tahunan, seperti padi ladang,
palawija, dan holtikultura. Tegalan letaknya terpisah dengan halaman sekitar
rumah. Tegalan sangat tergantung pada turunnya air hujan. Tegalan biasanya diusahakan
pada daerah yang belum mengenal sistem irigasi atau daerah yang
tidak memungkinkan dibangun saluran irigasi. Permukaan tanah tegalan tidak
selalu datar. Pada musim kemarau keadaan tanahnya terlalu kering sehingga tidak
ditanami. Tanaman utama di lahan tegalan adalah jagung, ketela pohon, kedelai,
kacang tanah, dan jenis kacang-kacangan untuk sayur. Tanaman padi yang ditanam
pada tegalan hanya panen sekali dalam satu tahun dan disebut padi gogo. Selain
itu tanah tegalan dapat ditanami kelapa, buah-buahan, bambu, dan pohon untuk
kayu bakar. Cara bertani di lahan tegalan menggunakan sistem tumpangsari, yaitu
dalam sebidang lahan pertanian ditanami bermacam-macam tanaman (Anonim, 2009).
Pengairan lahan kering
perlu memperhatikan sifat – sifat tanah. Lahan yang bersifat halus, sampai
sangat halus dan struktur tanah remah mempumyai efisiensi pemakaian air lebih
tinggi dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Faktor – rgani yang
mempengaruhi pengairan antara lain adalah iklim, ketersediaan sumber air, serta
kebutuhan air tanaman (Kurnia, 2004).
Tegal pekarangan
merupakan lahan yang letaknya disekitar pemukiman. Di subsistem tegal ini
sistem pengairan mengandalkan curah hujan namun sudah ada campur tangan dari
manusia. Tanaman yang biasanya ditanam berupa padi gogo, tanaman palawija dan
tanaman pangan. (Adi,2001).
5)
Sub Sistem Perkebunan
Perkebunan merupakan
usaha penanaman tumbuhan secara teratur sesuai dengan ilmu pertanian dan
mengutamakan tanaman perdagangan. Perkebunan penting bagi bahan ekspor dan
bahan industri. Jenis-jenis tanaman perkebunan khususnya di Indonesia antara
lain karet, kelapa sawit, kopi, teh, tembakau, tebu, kelapa, cokelat, kina,
kapas, cengkih (Soerjani, 2007).
Pada sistem pengairan,
pertanian lahan kering, kondisi topogragfi memegang peranan cukup penting dalam
penyediaan air, serta menentukan cara dan fasilitas pengairan. Sumber – sumber
air biasanya berada pada bagian yang paling rendah, sehingga air perlu
dinaikkan terlebih dahulu agar pendistribusiannya merata dengan baik. Oleh
karena itu, pengairan pada lahan kering dapat berhasil dan efektif pada wilayah
yang datar datar – berombak (Kurnia, 2004)
Subsistem perkebunan
berupa lahan luas yang hanya terdapat satu komoditas pertanian yang diusahakan
dan permanen. System perkebunan perlu diutamakan tata rumah tangga yang sedikit
atau sama sekali tertutup dimana di dalamnya terdapat suatu satuan unit tanah
yang luas. Tanaman yang diusahakan biasanya kelapa sawit, karet, teh, kopi,dll
(Faris, 2007).
III. METODE PRAKTIKUM
A.
Alat
dan Bahan
Alat dan bahan yang
kami gunakan dalam praktikum ini yaitu kantong plastik, alat tulis, kertas
plano/kertas karton, kamera, alat tulis dan pertanaman ubi kayu/singkong
B.
Prosedur
Kerja
1.
Persiapan bahan dan alat yang dibutuhkan
2.
Komponen agroekosistem di sekitar
pertanaman singkong diamati, kemudian dicatat
3.
Gambar dimbil seperlunya
4.
Keadaan agroekosistem yang sudah diamati
dan dicatat, digambarkan ke dalam sebuah kertas karton
5.
Hasil pengamatan dipresentasikan saat
praktikum di laboratorium.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Praktikum
Adapun gambar hasil pengamatan agroekosistem tanaman
singkong adalah sebagai berikut:
A.
Pembahasan
Analisis agroekosistem
(AAES) merupakan salah satu kegiatan terpenting dalam pengelolaan hama terpadu
(PHT). Kegiatan AAES dapat dianggap sebagai teknik pengamatan terhadap hal yang
mendasari petani dalam membuat keputusan tentang pengelolaan lahan/kebunnya.
Keputusan pengelolaan tersebut misalnya kegiatan sanitasi, pemangkasan, pemupukan,
teknik pengendalian (mekanis-fisis, budidaya, penyemprotan pestisida dan
lain-lain). Kegiatan AAES dapat mengantarkan petani menjadi ahli si lahan
kebunnya sendiri karena setiap minggu harus melakukan observasi langsung secara
teratur dan disiplin. Kegiatan AAES mengharuskan emlakukan pengamatan sejumlah
faktor sebelum membuat keputusan perlindungan tanaman. Faktor tersebut antara
lain:
a)
Hama
b)
Penyakit
c)
Musuh alami
d)
Serangga netral
e)
Cuaca
f)
Air
g)
Kondisi lahan
h)
Gulma
Kami
melakukan observasi terhadap agroekosistem di sekitar pertanaman singkong pada
hari Rabu, tanggal 17 September 2014, pukul 09.00 WIB. Lokasi pertanaman
singkong tersebut berada di kelurahan Karangwangkal, Purwokerto Utara.
Kebun
singkong di lokasi berbatasan langsung dengan kandang kambing di sebelah utara,
kebun pisang di sebelah selatan, saluran irigasi sawah di sebelah timur dan
kebun pepaya di sebelah baratnya. Tanaman selain singkong yang terdapat di
lokasi antaralain yaitu pepaya, rambutan, pisang, nangka, cabai, kunyit dan
beberapa tanaman tembelekan/tagetes.
Hewan
yang kami dapati di lahan tersebut diantaranya yaitu capung, laba-laba,
kupu-kupu, semut, belalang, kutu putih, tikus dan kumbang uret. Capung dan
laba-laba disini merupakan hewan predator yang memangsa serangga lainnya,
sedangkan hewan semut dan kupu-kupu merupakan serangga netral. Hewan yang
merupakan hama bagi tanaman singkong yaitu kutu putih, larva uret dan tikus.
Tumbuhan
gulma juga banyak ditemui di sekitar lahan, diantaranya rumput teki, rumput
grintingan, rumput belulang, tuton dan babandotan. Namun intesitas
penyerangannya masih ringan sampai sedang.
Syarat tumbuh tanaman singkong, menurut Ir. H.
Rahmat Rukmana MBA, M.Sc. (2007), adalah sebagai berikut:
a.
Iklim
1. Curah
hujan yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong antara 1.000 - 2.500 mm
/ tahun.
2. Suhu
udara minimal bagi tumbuhnya ketela pohon/singkong sekitar 10 derajat C. Bila
suhunya dibawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat,
menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
3. Kelembaban
udara optimal untuk tanaman ketela pohon/singkong antara 60 - 65%.
4. Sinar
matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon / singkong sekitar 10 jam /
hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.
b.
Media
Tanam
1.
Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon / singkong
adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak
terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai
tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah.
2.
Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon /
singkong adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran,
grumosol dan andosol.
3.
Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya
ketela pohon berkisar antara 4,5 - 8,0 dengan pH ideal 5,8. pada umumnya tanah
di Indonesia ber pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0 - 5,5, sehingga
seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.
Berdasarkan syarat
tumbuh tersebut, maka tanaman singkong ini cocok tumbuh di purwokerto yang
memiliki suhu rata-rata 26,8oC, curah hujan tahunan 2.750 mm, dengan
ketinggian 0-300 mdpl.
V. PENUTUP
A.
Simpulan
Simpulan yang dapat
diambil dari pembahasan di atas yaitu bahwa lahan yang kami amati termasuk ke
dalam jenis agroekosistem sub sistem tegal. Selain tanaman utama yang berupa
singkong, lahan di sekitarnya juga ditanami tanaman tahunan seperti nangka,
pepaya dan rambutan. Namun karena tanaman tahunan tersebut lebih besar dari
tanaman singkong itu sendiri, maka tajuknya menaungi pertanaman singkong,
sehingga memicu timbulnya penyakit akibat kelembaban yang terlalu tinggi karena
sinar matahari terhalang.
B.
Saran
Sebaiknya praktikum analisis agroekosistem ini
dilakukan dengan serius, semua anggota kelompok harus ikut bekerja, supaya
setiap individu dapat memahami komponen-komponen agroekosistem yang
diobservasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Adi. 2001. Pekarangan. www.pustaka-deptan.go.id. Diakses pada
tanggal 5 Oktober 2014
Anonim,2009. Subsistem. www.pustaka-deptan.go.id. Diakses
pada tanggal 8 Oktober 2014
Faris, Bachria. 2007. Subsistem dan Pengaruh. IKIP
Semarang : Semarang Press
Beukering. 1981. Keragaman dan Analisis Pengkajian Sistem Usaha Tani
Berbasis Padi di Kabupaten Lamongan. Jurnal Teknologi dan Informasi. 3(1):
43-47
Hanafiah. 2005. Tanah Sawah. http://repository.usu.ac.id.
Diakses pada tanggal 8 Oktober
Karyono, 2000. Menejemen Agroekosistem.
http://www.foxitsoftware.com. Diakses pada tanggal 9 Oktober 2014
Kurnia, Undang. 2004. Prospek Pengairan Pertanian Tanaman
Semusim Lahan Kering. Balai Penelitian Tanah. Bogor.
Jurnal Litbang Pertanian
Lunda.1994.Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pekarangan
Untuk Warung Hidup Di Desa Girigondo Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.
Semarang:Universitas Diponegoro
Mangan, J. 2002. Pedoman SL-PHT Untuk Pemandu. Proyek
PHT-PR/IPM-SECP. Jakarta . 21 hal
Michon, G. and H. de Foresta. 1999. Agro-forests: incorporating a
forest vision in agroforestry. CRC Press, Lewis Publishers: 381-406.
Rukmana, Rahmat. 2007. Ubi Kayu : Budidaya dan Pascapanen.
Yogyakarta, Kanisius
Soerjani. 2007. Lingkungan Hidup. Jakarta:Universitas Indonesia
Press
Suharta, N, Alkasuma, dan H. Suhendra. 1994. Karakteristik tanah dan
penyebarannya di daerah irigasi Air Kasie II, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Bogor.
Supriyono. 2002. Agroekosistem Sawah dan Tegal. Jurnal Pengantar
Ilmu Pertanian. 5(3) : 48-51.
Supriyono. 2002. Pengantar Ilmu Pertanian. Surakarta:UNS Press
Widowati. 2000. Pengaruh pengolahan tanah, pengairan terputus, dan
pemupukan terhadap produktivitas lahan sawah bukaan baru pada Inceptisols dan
Ultisols Muarabeliti dan Tatakarya. Jurnal
Tanah dan Iklim 18: 29-38.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar